Seribu Langit Senja : Prolog
Langit senja memang indah. Bahkan hanya dengan menatapnya saja, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan akhir yang buruk dalam kehidupan setiap insannya. Kutipan itulah yang mengawali cerita ini. Kisah dari Anja, dan cerita dibalik Seribu Langit Senja.
*****
Suasana pagi itu sungguh dingin. Embun pagi menetes dan mengalir di kaca jendela, membuat siapapun yang merasakan suasana itu enggan untuk berpindah tempat meski hanya sesaat. Begitupun dengan Anja, gadis berusia 20 tahun yang saat ini tengah berjuang di kota perjuangan, Surabaya. Dia bukanlah gadis kuliahan. Lebih tepatnya, dia memutuskan untuk berhenti kuliah sejenak sembari mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk melanjutkan studinya di kampus perjuangan.
Rafanja Adela Putri, yang oleh kedua orang tuanya lebih sering dipanggil Anja, merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Lahir pada tahun 1998, ia memiliki selisih umur yang cukup jauh dari adiknya. 15 tahun. Adik Anja yang pemberani lahir di tahun 2013. Sangat kebetulan, sang adik laki-lakinya lahir di waktu senja. Menambah deret memori bahagia di kala senja menyapa. Karena sang adik lahir di kala senja dan karena sang Ayah sangat mengerti bahwa putrinya menyukai langit senja, sang Ayah menamai putra kecilnya Senja Putra Pahlawan, yang kelak akan melindungi kakaknya ketika ia beranjak dewasa.
Anja memang sangat menyukai langit senja. Semua bermula dari sang Nenek. Nenek Anja adalah seorang pelukis. Oleh sebab itu, bakat seni mengalir dalam diri Anja. Sebagai seorang pelukis, Nenek Anja kerap sekali pergi keluar untuk sekadar mencari inspirasi. Dan objek yang paling ia sukai adalah langit senja. Sudah banyak sekali lukisan dari momen bernuansa langit senja dilukis oleh sang Nenek. Dan itu menular kepada Anja. Setiap kali sang Nenek akan pergi melukis langit senja, maka disitu Anja akan selalu merengek untuk ikut. Dan ketika pulang, Anja kecil yang sudah sangat lelah mengikuti sang Nenek akan meminta untuk digendong dan sang Nenek akan mulai menceritakan kisah tentang langit senja.
"Kau tahu Anja? Bahwa langit senja begitu indah?"ujar sang Nenek.
"Tentu tahu Nek. Aku sangat menyukainya." jawab Anja kecil dengan polos.
"Tapi..meskipun indah, langit senja selalu membawa kesedihan di dalamnya." terang sang Nenek sambil menatap langit yang mulai menjadi gelap.
"Meskipun begitu, tetaplah percaya bahwa di setiap kesedihan ada keindahan, apa yang menurutmu akhir belumlah tentu akhirnya, Anja" lanjut sang Nenek menutup ucapannya.
Anja kecil hanya bergumam lirih. Dia sudah sangat mengantuk, sehingga apa yang disampaikan Neneknya tidak terdengar seluruhnya. Ia tertidur dalam gendongan sang Nenek dalam perjalanan kembali kala itu.
Semenjak itu, Anja selalu merasa bahwa langit senja adalah malaikat keberuntungannya. Terima kasih atas bakatnya, dia mampu mengabadikan momen di langit senja melalui kamera hadiah pemberian sang Ayah. Dia selalu merasa bahagia ketika langit senja menyapanya di penghujung hari, digantikan gelapnya malam bertabur bintang-bintang. Namun, di pertengahan tahun 2017, sang Ibu memberikan kabar mengejutkan bahwa sang Ayah mengalami kritis. Pikirannya kalut. Tenggorokannya tercekat. Batinnya menahan tangis. Air mata ditahan di pelupuk matanya. Bergegas ia mengemasi barangnya. Ditinggalkannya kelasnya hari itu dan segera berlalu menuju terminal bis Purabaya. Ia berharap ia masih sempat untuk menemui Ayahnya. Di dalam perjalanannya menuju kampung halamannya di Jogjakarta, sembari malantunkan do'a untuk sang Ayah, ia mendapat telepon. Ayahnya telah tiada. Sang Khalik harus memanggil Ayahanda Anja kembali oleh suatu penyakit kanker yang sudah diderita Ayahnya selama kurang lebih dua tahun. Anja tak dapat berkata apa-apa. Tangisnya meleleh. Direngkuhnya tas ransel di pangkuannya. Ia menangis dalam diam. Langit senja menemani Anja, ikut memeluknya erat, dalam rasa pilu di sisa perjalanan tersebut Saat itu, kesedihan hadir di langit senja dan merubah semuanya.
Komentar
Posting Komentar