Tangan Tuhan Maha Hebat!
Di malam Ramadhan ini, teringat kembali bagaimana diriku mampu berada disini. Meninggalkan dingin dan nyamannya Kota Malang, dan menginjakkan kakiku di panas dan megahnya Kota Surabaya. Dahulu, tidak pernah terbesit sedikitpun aku akan berada disini, di kampus dan departemen ini pula.
Jujur saja, aku tak pernah mengenal ITS secara intim. Yang kutahu, ITS terletak di Surabaya, dan merupakan salah satu kampus teknik terbaik di Indonesia. Meskipun begitu, aku tetap tidak tertarik. Cita-citaku sedari kecil adalah menjadi dokter. Menurutku keren saja, dokter kalau berbicara kelihatan cerdas (hahaha). Akupun sangat menyukai pelajaran Biologi. Hingga kelas 2 SMA pun, aku masih ingin menjadi dokter. Tapi sepertinya memang Allah memiliki rencana lain untukku, yang hingga saat ini pun, aku nggak tahu bagaimana ujung dari rencana tersebut. Orang tuaku mengarahkanku untuk masuk di bidang teknik, yang notabenenya aku sangat bermusuhan dengan bidang itu hehe. Memikirkan bagaimana bola bisa menggelinding di permukaan kasar saja aku sudah bingung, apalagi mempelajari teknik itu sendiri. Aku tak habis pikir.
Akhirnya, setelah tekad kuat antara kami, aku memutuskan untuk mengambil jalan tengah. Menjadi seorang ahli Farmasi di Industri ^^. Pilihanku pun jatuh pada bidang Farmasetika di salah satu institusi ternama. Ternyata oh ternyata, perjuanganku selama 3 tahun masih harus terus berlanjut. Aku dinyatakan tidak lolos SNMPTN di kampus yang kupilih. Kecewa? Pasti! Untungnya orang tuaku masih memberikan supportnya untukku. Aku pun mempersiapkan diri mengikuti ujian SBMPTN. Dengan tekad penuh, kugaskan saja semua semangatku haha. Pada SBMPTN aku memilih tiga disiplin ilmu, yaitu :
1. Teknik Kimia - ITS
2. Farmasi - UGM
3. Perencanaan Wilayah Kota - ITS
Ketiga pilihan tersebut muncul setelah berdiskusi dengan orang tuaku. Beliau menyarankanku untuk masuk Teknik Kimia karena aku menyukai pelajaran Kimia, yah meskipun aku kesusahan di Fisika. Akhirnya kuubah urutan yang semula Farmasi di pilihan pertama, dan Teknik Kimia di pilihan kedua. Padahal, aku juga tidak sepenuhnya optimis bakal diterima di ITS, apalagi Teknik Kimia, yang pada saat itu persaingannya hampir 1 : 20-an. Benar-benar membuat nyaliku ciut saat itu. Hingga H-1 tes pun aku masih terus mengasah kemampuanku, terutama Fisika dan Bahasa Indonesia (dua hal yang menurutku susah sekali buat dipahami). Tak lupa juga aku mempertebal iman kepada Allah SWT. Kurajinkan ibadahkusaat itu. Sungguh kulakukan semuanya selayaknya pria mendekati pujaan hatinya.
Keesokan harinya, aku berangkat untuk mengikuti SBMPTN di Universitas Negeri Malang. Alhamdullilah, tes mampu kulalui dengan tenang. Tapi saya sungguh khawatir dengan hasil pekerjaan saya. Sempat tersebar rumor bahwa kami sebagai peserta SBMPTN harus mengisi setiap kategori yang diujikan, dan pada saat itu aku tidak mampu menjawab satupun dengan benar pada kategori Matematika Teknik :(. Aku bingung sejadi-jadinya karena hal ini. Pikiranku kacau. Aku sudah membayangkan aku tidak bakal diterima dan lain sebagainya. Jika tahun 2015 itu aku tidak mendapatkan tempat di SBMPTN, aku akan mengulang di tahun depan. Itu tekadku pada saat itu, meskipun aku tidak benar-benar bertekad seperti itu. Aku khawatir.
Sebulan kemudian kujalani dengan perasaan harap-harap cemas. Aku semakin menggiatkan diri untuk mendekati Allah (karena ada maksud ini nih -_-). Mungkin memang terkesan ada maunya ya, tapi disitu adalah momen-momen aku sadar, bahwasanya memang Allah Maha Besar. Aku pun memasuki Ramadhan di tahun 2015. Masih getol, aku hanya berpikir ketika nanti mungkin aku tidak mendapatkan dunia yang aku inginkan dalam setiap doa yang kupanjatkan, setidaknya aku bisa mendekati-Nya. Hari pengumuman pun tiba. Aku sudah lupa tanggalnya, tapi aku masih ingat betul bahwa pengumuman tersebut terjadi di bulan Ramadhan dan pukul 17.00! Jarum jam telah berdiri di depan angka 5, tapi aku belum berani membukanya. Teman-temanku di grup mulai memberikan kabar. Ada suka, dan ada pula yang duka. Aku semakin khawatir. Aku mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku akan membuka selepas adzan maghrib (jaga-jaga kalau kecewa dan bersedih haha). Akhirnya adzan pun berkumandang. Kuberanikan diri mengetikkan nomor ujianku. Kutunggu layar berganti sembari kututup dengan kertas (jujur, deg deg-an banget T-T). Aku turunkan kertasnya perlahan-lahan. Mulai kulihat tulisan "Selamat" di layarku, sehingga langsung kuturunkan seluruh kertasku. Betapa terkejutnya aku, aku diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember di disiplin ilmu Teknik Kimia! Disitu perasaan senang dan tak percaya hadir jadi satu. Prodi ini sangat diminati dan aku mampu masuk di dalamnya. Tak hentinya aku mengucap syukur. Orang tuaku juga turut bahagia.
Setelahnya, aku teringat kembali dengan satu kata motivasi dari teman saya, dimana pada saat itu kami saling menguatkan satu sama lain haha. Kata-kata itu :
"Ada 3 cara Tuhan dalam menjawab doa kita, yaitu :
"Ada 3 cara Tuhan dalam menjawab doa kita, yaitu :
1. Ya, Ia akan memberi apa yang kita minta
2. Tidak, Ia akan memberi kita sesuatu yang lain dan lebih baik
3. Tunggu, Ia akan memberi yang terbaik tersebut. Pada waktu-Nya dan waktumu"
Memang benar. Ia akan menjawab doamu dengan ketiga cara tersebut. Dengan cara yang tak terduga dan waktu yang tak terduga pula. Bisa jadi apa yang kita rencanakan menurut kita adalah yang terbaik, waktu yang kita susun adalah waktu yang paling tepat. Tapi Tuhan Maha Tahu. Dengan sentuhan lembut tangannya, semua bisa berubah. Memang terkadang tidak mudah, tetapi Tuhan telah menjanjikan bahwa dibalik kesusahan ada kebahagiaan yang menunggu, tinggal bagaimana kita menyikapi. Menolak dan bersedih atau menerima dan terus maju. Itu pilihan.
Dan satu hal lagi yang kembali kuingat :"), pesan dari Ayahku : "Jangan meminta untuk mendapatkan nilai tertentu, tempat tertentu, ataupun hal lain yang hanya menjadi keinginanmu. Berdoalah untuk diberikan yang terbaik". Setelah kupikir, doa itu sangat benar. Mungkin ini adalah jalannya yang terbaik. Ke depan aku nggak akan tahu apa yang terbaik. Aku hanya bisa merencanakan dan berusaha yang terbaik. Tapi tetap, Tuhan Maha Tahu. Rencanaku dan Jalanku, biarlah menjadi kejutan hidupku. Aku telah banyak terkesan oleh-Mu, dan ke depan pun akan tetap sama.
Terima kasih untuk tulisan ini, aku jadi kembali mengingat hal-hal penting tersebut.

Komentar
Posting Komentar